Ketika Semua Orang Ingin Berhenti dan Meyakinkan Generasi Muda untuk Tidak Menjadi Guru: Karangan Reflektif

Kalau semua ingin berhenti menjadi guru? Lalu bagaimana masa depan mereka?


Kisah ini bermula ketika saya duduk di bangku SMP. Saat itu ada acara keluarga dan saya mulai terpikir cita-cita. Pertanyaan klise kumpul keluarga. Saya mengamati orang-orang dewasa di sekitar saya, maupun orang-orang yang saya lihat di dunia maya. Saya juga mencoba mengingat pelajaran dan nilai-nilai saya selama sekolah. Nilai-nilai yang saya anggap tinggi berada di pelajaran rumpun IPA dan bahasa. Tak lama kemudian, saya melihat sosok tante saya. Dia adalah seorang guru bahasa Indonesia sekaligus kepala salah satu SMA di Surabaya, penerima beasiswa S-2, sekaligus pegiat di Balai Bahasa. Keren!

Saat itu, saya mulai mempertimbangkan bahasa sebagai pilihan saya, meski tentu menjadi dokter tidak akan terabaikan. Waktu berlalu, tiba saatnya saya memilih jurusan di SMA. Sayangnya, ketika saya masuk SMA, sudah tiada lagi jurusan IPA, yang ada MIPA: Matematika dan IPA. Oh no! I hate math, so bad.

Beberapa hari sebelum psikotes dan pengumpulan form pilihan jurusan, saya coba mengecek sekali lagi: apakah nilai matematika saya seburuk itu? Sepertinya tidak, tapi memang jauh lebih rendah dibanding bahasa. Saya coba ingat lagi perjuangan saya mendapat nilai yang segitu. Berat dan banyak nyambat. Akhirnya bulat tekad saya, fokus pada bahasa karena sudah terbukti saat pelajaran dan pada capaian nilai rapor.

Tiga tahun di SMA, ada target yang harus dicapai: berhasil diterima di PTN. Puji Tuhan, saya juga dapat kesempatan mencicip jalur undangan. Saat memilih jurusan, saya tanya ke Mama karena saya yakin ucapan beliau manjur. Mama menyarankan masuk ke bahasa Indonesia. Yang saya ingat, "Katanya kamu ingin kaya tante? Kamu juga bilang kamu ingin mengajar di luar negeri atau international school?" masuk akal, pikir saya.

Waktu pengumuman tiba, puji Tuhan saya diterima. Empat tahun berkuliah, saya sangat menikmati tiap pelajaran dan tugas-tugasnya. Saya jalani dengan sukacita. Hingga tiba waktunya masa-masa lenggang, menunggu kelulusan. Di suatu siang ketika berolahraga, ada telepon masuk mengenai calon pekerjaan. Saya iyakan tawaran itu. Hari ini, ketika saya menulis blog ini, 4 tahun sudah saya mengabdi di tempat kerja pertama ini.

Bagaimana rasanya?

Senang, takjub, tidak menyangka, dan menantang.

Pekerjaan pertama seorang freshgraduate, ditambah saya tidak familiar mengajar di lingkungan internasional yang tentu saja semi berbahasa Inggris. Saya tidak bisa jalan, saya harus berlari, atau setidaknya berjalan cepat. Beratus kali saya jatuh di berbagai lubang, tapi ada satu keyakinan saya: Tuhan tidak akan membawa saya sejauh ini untuk sia-sia.

Sekarang, bagaimana rasanya menjadi seorang guru di negeri ini?

Di tempat saya, jujur, saya tidak relevan dengan pernyataan finansial banyak guru yang tidak dihargai (setidaknya hingga saat itu). Puji Tuhan, meski tidak terlalu berlebihan atau memang belum bisa membeli iPhone terbaru cash, tapi saya tidak perlu sebegitunya berhemat. Namun, memang tren orang tua yang semakin ke sini semakin banyak yang tidak lebih berani pada anak, membuat guru lebih kesulitan. Kami diberi mandat untuk mengajar dan mendidik, katanya. Tetapi, banyak kasus ketika guru mendidik moral, seperti menegur, murid dengan mudah memelintir kata-kata dan situasi pada orang tua dan orang tua tidak memilih untuk objektif, mendengar 2 sisi. Tren orang tua saat ini, rasanya banyak yang lebih memilih langsung menghakimi dengan kata-kata hujatan dan ancaman. Bagaimana dari sudut pandang saya? Saya bingung. Bukankah guru diminta untuk membentuk anak? Beberapa komentar orang tua, yakni kan anak saya lebih banyak waktu di sekolah atau saya sudah bayar/percayakan anak saya ke sekolah, kenapa anak saya begini dan begitu? 

Standar ganda.

Mungkin sudah waktunya Kementerian Pendidikan Indonesia mulai menginjak tanah dan berbenah. Mungkin aspirasi rakyat kini berubah: masyarakat ingin guru mendidik, tapi tidak ingin guru memiliki ruang untuk mendidik(?)

Lalu, saya sampai di fase memiliki anak. Saya berpikir, saat ini, ketika KKM dan sistem tinggal kelas ditanggalkan, anak-anak menyepelekan. Tidak semua, tapi cukup banyak dan ini hal yang mengerikan. Apakah kita mampu mencapai Indonesia Emas 2045? Saya khawatir. Saat ini, pesimis saya jauh lebih dominan.

Maksud saya: ketika guru tidak lagi mendidik karena ketakutan dengan wali murid. Jelas, kami mencari aman. Kami juga memiliki keluarga yang membutuhkan kami. Apa yang terjadi? Adanya degradasi moral dan menyepelekan banyak hal. Rasanya, meski saat ini era digitalisasi dan AI, semua orang dengan mudah mencari tutorial. Bukankah memiliki skill yang melekat jauh lebih penting? Karena kita bisa hemat waktu tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Just in case, era digital tiba-tiba mati/black out, kita tidak kebingungan.

Coba kita tarik mundur lebih jauh ke esensi guru: peduli, berempati--bekerja untuk membuat anak-anak (yang bukan darah daging dan tatanan keluarganya) lebih cerdas, paham situasi, lebih siap akan masa depan, dan tata krama. Bila orang-orang ini memilih hilang. Bagaimana nasib anak-anak dengan orang tua yang sedang survive, bahkan untuk segenggam beras?

Sewajarnya manusia yang dikaruniai 2 telinga dan 1 mulut. Baiklah lebih banyak mendengar daripada berkomentar. Lebih banyak ingin tahu sudut pandang berbagai sisi.

Pada akhirnya, menurut saya, ketika semua orang ingin berhenti dan meyakinkan generasi muda untuk tidak menjadi guru.. saya teringat salah satu seri Spongebob: Salsa Imbecilicus.

Jika menjadi guru berarti sendirian di tengah badai, maka jangan heran bila semakin sedikit orang yang mau berdiri di sana.


Karangan ini murni reflektif penulis sebagai guru. Tidak ada maksud untuk menyinggung atau menyudutkan pihak tertentu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Ambil KTM Unair (2023)

REVIEW ZWITSAL BABY CREAM SEBAGAI PELEMBAB